Monday, July 1, 2013

Banking Insight to Build Great Nationalism with Prosperous Spirit

Hari ini, para peserta program kepemimpinan LPDP Batch 2 mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan dengan tema "Banking Insight to Build Great Nationalism with Prosperous Spirit". Di pelatihan ini, para peserta banyak belajar seputar pengalaman Bank Mandiri dalam mengelola manajemen perusahaannya, berbagi kisah jatuh bangun perusahaan ketika menghadapi krisis moneter yang sempat melanda tips dengan jajaran direksi perihal kesuksesan dan juga mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan ke beberapa departemen di bawah Bank Mandiri.

Bank Mandiri mampu menjadi bank terbesar di Indonesia bukan tanpa strategi. Bnk Mandiri maju pesat dengan mengedepankan 5 nilai budaya dalam kinerja para pekerjanya, yaitu: Trust (kepercayaan), integrity (integritas), professionality (profesionalitas), customer focus (fokus pada pelanggan), dan excellence. Bank Mandiri juga memiliki sistem kerja yang unik untuk mengukur performa para pegawainya, yang disebut sebagai Individual Development Plan (IDP). Dalam sistem ini, talent class ditetapkan sebagai dasar pengembangan para pegawai.

Dalam sesi ini, Direktur Utama Bank Mandiri sempat berbagi tips-tips kesuksesan beliau dalam meniti karir, antara lain:
  1. Do the best at what we do! Lakukan terbaik pada apa yang kita kerjakan!
  2. Be Yourself! Jadilah diri sendiri! 
  3. Jangan mengejar kekuasaan, jabatan, atau uang. Bekerja tidak hanya mengejar prestasi, tapi juga berinteraksi dengan banyak orang.
  4. Belief! Percaya, bahwa bila kita banyak berdoa dan berusaha maka tujuan pasti akan tercapai. Jika gagal, maka percaya bahwa semua hal sudah diatur olehNya.
  5. Lakukan segala hal mulai dari diri sendiri!
Sesi sharing bersama Direktur Utama Bank Mandiri
Kesan saya terhadap Bapak Direktur Utama Bank Mandiri: "Muda, Sukses, Mengispirasi !". Semoga kesuksesan beliau mampu memberikan inspirasi bagi kita yang masih meniti karir ke depan.

Sunday, June 30, 2013

Tips Menggunakan Twitter

Minggu sore tanggal 30 Juni 2013, para peserta leadership programme mendapatkan materi seru tentang Sosial Media. Sesi ini diasuh oleh Yunus Bani Sadar, seorang praktisi SEO asal Surabaya yang menyenangi dunia Internet Marketing. Penasaran? Lihat profil Kang Yunus di sini.

Kang Yunus menyampaikan materi tentang sosmed.
Nah, di tulisan ini saya hanya akan membagikan salah satu tema yang Kang Yunus sampaikan yaitu tentang Tips menggunakan Twitter. Twitter merupakan salah satu sosial media terbesar selain beberapa sosial media lain seperti Facebook, LinkedIn, Pinterest, dan Instagram. Untuk mengefektifkan penggunaan Twitter, berikut tips-tips yang bisa diterapkan:
  1. Gunakan username dengan prinsip 3S: Simple, Short, Straight.
  2. Tweet hal-hal yang positif dan menghibur
  3. Maksimalkan penggunaan 'Reply' dan 'Retweet'
  4. Followers = Following + Content
  5. Always Followback Your Real Followers
  6. Twitter is Love marketing, not Hard Selling
  7. Adakan Kultwit minimal 1x sehari
  8. Hindari 'TwitWar'
Semoga bermanfaat! :)

Belajar Membuat Presentasi Efektif bersama Bapak Tedy J. Sitepu

Materi pertama program kepemimpinan LPDP di hari Minggu, 30 Juni 2013 diisi dengan workshop pembuatan presentasi yang efektif dengan judul‘Presentation Impact’. Workshop diasuh oleh Bpk. Tedy J. Sitepu. Beliau adalah praktisi di bidang pengembangan organisasi dan manajemen perubahan yang menulis buku "Presentation with Impact" terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Suasana kelas belajar membuat presentasi efektif bersama Bpk. Tedy J. Sitepu
Pak Tedy berpendapat bahwa memberi presentasi sama halnya dengan memberi ‘hadiah’, sehingga presentasi harus menyenangkan,  menghibur dan mencerahkan bagi audiens. Apa yang kita sajikan dalam presentasi menunjukkan bagaimana kita berpikir dan apa yang kita pikirkan.

Banyak presentasi yang gagal atau dianggap sebagai presentasi yang buruk, dikarenakan beberapa hal antara lain: tanpa konsep, terlalu banyak muatan dalam slide, terlalu banyak ornamen dan warna, dan terlalu banyak data. Presentasi seperti ini akan membingungkan bagi audiens atau bahkan membosankan, sehingga sasaran tidak tercapai. Tanda-tanda presentasi yang buruk misalnya saat audiens terlihat kebingungan, ngantuk, atau sibuk sendiri.

Nah, seperti apa presentasi yang baik? Menurut Pak Tedy, presentasi yang baik adalah presentasi yang memiliki 4 komponen yang efektif meliputi: presenter, interaksi, makna, dan media. Presentasi yang efektif bisa dibangun melalui IMPACT :
IMpressive atau menarik perhatian, mampu menarik audiens
Powerful: memiliki energy positif yang disalurkan kepada audiens
Actual/Contextual: menunjukkan pengetahuan paling terkini yang relevan dengan audiens
Trustworthy: kepercayaan terhadap data, pendapat, pernyataan, kesimpulan, usulan, dan saran.
Presentasi yang buruk umumnya diawali tanpa perencanaan. Untuk menghindarinya, tentunya diperlukan rencana sebelum membuat presentasi. Anda bisa membuat outline terlebih dahulu (misalnya membagi presentasi Anda menjadi 3 bagian: pendahuluan, hasil/isi, kesimpulan) dan merencanakan kira-kira informasi apa saja yang akan Anda tampilkan di masing-masing bagian tersebut. Selain itu, dalam presentasi jangan hanya menampilkan data, namun tunjukkan makna di balik data yang ingin dipresentasikan.

Semoga bermanfaat! :)

Saturday, June 29, 2013

Berbagi Pengalaman Kuliah di Luar Negeri

Kuliah di luar negeri memang banyak tantangannya, apalagi ketika seseorang membawa serta keluarganya. Inilah yang pernah dialami oleh Della Temenggung. Menurut saya, Bu Della adalah contoh Ibu yang sukses baik di dunia akademis maupun keluarga. Beliau adalah mantan mahasiswa di Australian National University yang menjalani studi S3 bersama suaminya. Beliau pernah menjabat sebagai ketua PPI di kampusnya dan saat ini tengah bekerja di World Bank.

Dalam sesi ini, Bu Della berbagi banyak hal seputar kehidupannya ketika menjalani studi di Australia. Seperti ketika beliau mengandung dan melahirkan anak keduanya di sana. Beliau sempat mengungkapkan sulitnya menerima kenyataan ketika menghadapi hal ini, namun dengan motivasi dan dukungan dari suami di sisinya, ia mampu menghadapinya.

Meskipun banyak kendala yang ia hadapi bersama keluarganya, banyak hal-hal positif yang mereka dapatkan. Salah satu contohnya, anaknya yang dulunya sangat pemalu kini menjadi anak yang sangat percaya diri dan pemberani setelah banyak bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat di Australia.

Berikut adalah 10 tips kuliah di luar negeri yang beliau bagikan kepada para peserta program kepemimpinan LPDP :
  1. Jangan nervous berlebihan, be confident!
  2. Belajarlah untuk terbuka, be open minded! Tempat baru adalah tempat untuk mempelajari hal-hal baru.
  3. Harus siap melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, misalnya sering datang terlambat.
  4. Buat kutipan yang jelas ketika menulis, agar tidak dianggap sebagai plagiat.
  5. Harus bisa "fokus" dan "memperhatikan" apa yang menjadi fokus kita. Banyak kasus mahasiswa yang gagal studi karena kurang fokus, misalnya terlalu sering jalan-jalan.
  6. Yang perlu dikelola bukanlah WAKTU, tapi PIKIRAN dan PERHATIAN kita.
  7. Sediakan waktu untuk mengamati dan memahami hal-hal di lingkungan baru kita.
  8. Bangun hubungan yang dekat dengan supervisor, karena supervisor merupakan orang "terdekat" dengan kita di kampus.
  9. Sampaikan hal-hal yang tidak mau kita lakukan. Harus dikomunikasikan. Jangan sampai merasa "tidak enak" kemudian "terpaksa" melakukan hal-hal yang tidak ingin Anda lakukan.
  10. Pilih universitas terbaik untuk bidang studi kita, pilih lingkungan terbaik bagi kita untuk mengenal hal-hal baru.
Ibu Della Temenggung berbagi pengalamannya kuliah di luar negeri
Terakhir Bu Della menyampaikan bahwa pada budaya apa pun, selalu ada kebaikan di sana. Dengan niat yang baik, kita pasti bisa beradaptasi dengan baik di tempat baru.

Friday, June 28, 2013

Belajar Menulis Publikasi Ilmiah Bersama Prof. Nasikin

Jumat siang di hari ketiga program kepemimpinan LPDP, para peserta program berkesempatan untuk belajar tentang materi "Publikasi Ilmiah" bersama Bapak Prof. Mohammad Nasikin. Beliau adalah guru besar di Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia yang sudah memulai karirnya sebagai dosen sejak tahun 1985. Sesi ini dimaksudkan untuk membekali para calon peserta beasiswa LPDP dengan keterampilan menulis publikasi ilmiah yang akan diperlukan selama studi ke depan.

Beberapa pertanyaan yang sering diajukan terkait publikasi antara lain: Apa pentingnya publikasi? Mengapa publikasi harus ilmiah atau internasional? Darimana kita harus mulai menulis publikasi? Seperti apa riset yang layak untuk dipublikasikan? Bagaimana bentuk tulisan yang layak publikasi? Serta jurnal ilmiah seperti apa yang baik untuk publikasi?

Menanggapi pertanyaan-pertanyaa di atas, Prof. Nasikin membagikan 'resep'nya dalam menulis publikasi. Dijelaskan oleh belau bahwasanya publikasi yang baik memiliki dua kriteria, yaitu: 1) Novelty (menyelesaikan masalah dan punya kontribusi terhadap ilmu pengetahuan) dan 2) tidak spekulatif / no speculation statement (khusus untuk penelitian S3).

Alur riset yang menghasilkan 'novelty' dijelaskan sebagai berikut :
  1. Masalah. Penelitian diangkat dari masalah bangsa misalnya perbaikan teknologi dan perbaikan sistem.
  2. Ide yang brilian (out of the box) atau bahkan 'nyeleneh'
  3. Rancangan/proposal riset. Riset 'perlu' dilakukan jika ada masalah yang perlu diselesaikan dan belum dikerjakan orang lain. Riset 'bisa' dilakukan dengan adanya metode yang realistis dan sumberdaya yang memenuhi.
  4. Riset dan hasil yang novelty, artinya mampu menyelesaikan masalah dan memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.
  5. Publikasi berupa jurnal atau paten.
Prof. Nasikin menyampaikan materi seputar publikasi ilmiah di depan calon penerima Beasiswa LPDP
Dalam sesi ini, Prof. Nasikin memberikan beberapa tips seputar penulisan publikasi ilmiah antara lain alur logika yang baik, merupakan publikasi baru, dan jangan terlalu lama / terlalu jauh dalam mencari ide riset. Penulisan publikasi ilmiah harus mampu menyampaikan novelty, dimulai dari identifikasi novelty dari hasil riset, dan selanjutnya dibuat 'story' dalam alur yang logis yang 'mengalir' sehingga informasi tentang novelty dapat dipahami dengan baik oleh orang lain.

Pengantar Nilai-nilai Kebangsaan Indonesia

Materi pertama di hari ketiga program kepemimpinan LPDP diisi oleh Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi. Beliau adalah Tenaga Profesional di Lembaga Ketahanan Nasional / LEMHANNAS RI. Lahir di Madiun, Jawa Timur, Bpk Imam Maksudi menghabiskan dua per tiga masa tugasnya di luar jawa sebagai anggota TNI AD. Di sesi pagi ini, beliau menyampaikan materi pengantar nilai-nilai kebangsaan Indonesia sambil bercerita seputar perjalanan hidup semasa tugas beliau mengabdi pada NKRI.

Bpk. Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi dari LEMHANNAS RI

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki budaya/adat majemuk, memiliki lokasi yang terpisah-pisah secara geografis, memiliki pengalaman sejarah (berdaulat, dengan tata pemerintahan masing-masing). Untuk menyatukannya, dibutuhkan kesepakatan atau konsensus. Ada empat konsensus dasar nasional sebagai dasar nilai bangsa Indonesia yaitu: 1) Pancasila sebagai falsafah bangsa; 2) UUD NRI Tahun 1945; 3) Negara KesatuanRepublik Indonesia (NKRI); dan 4)  Sesanti Bhineka Tunggal Ika yang merupakan hakikat hidup manusia dan ajaran moral untuk hidup bermasyarakat secara harmonis.

Perkembangan konsensus dasar nasional bisa dipahami dari dua perspektif yaitu perspektif historis dan perspektif sosiologis. Perspektif historis dibagi menjadi dua fase yaitu fase ketika bangsa belum bernegara dan telah berbegara. Perkembangan pada saat bangsa belum bernegara antara lain: budaya dan bahasa melayu menjadi bahasa nasional/bahasa perjuangan; munculnya bhineka tunggal ika sebagai ajaran untuk menghargai perbedaan serta mewujudkan masyarakat yang rukun; sumpah pemuda (1928) yang menyatukan potensi lokal serta penegasan sikap dan kehendak yaitu satu bangsa, tanah air, dan bahasa persatuan. Sedangkan perkembangan saat bangsa telah bernegara antara lain: penetapan falsafah bangsa, konstitusi negara (UUD '45), bentuk negara kesatuan (NKRI), dan semboyan kebangsaan bhineka tunggal ika. Perspektif Sosiologis menjelaskan masyarakat Indonesia yang multikultural dimana timbul sentimen-sentimen yang memunculkan konflik sosial, menuntut kesetaraan, kolonial, sehingga dari hal-hal tersebut dipandang perlu ada nilai-nilai yang diterima dan diakui bersama.

Mengapa nilai-nilai kebangsaan Indonesia diperlukan?
Nilai merupakan sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal baik atau buruk (Pepper, 1958:7), sedangkan Perry (1954) mendefinisikan nilai sebagai segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subyek. Pemantapan nilai kebangsaan PENTING untuk menyegarkan dan menguatkan kesadaran kebangsaan untuk membangun ketahanan nasional Indonesia; meningkatkan cinta dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara; serta untuk semakin meyakinkan kebenaran falsafah pancasila dan UUD '45 sebagai satu-satunya pedoman negara, NKRI sebagai satu-satunya bentuk negara yang tepat untuk kepulauan dan pilihan hidup bersama; serta ajaran untuk menghargai sesama.
    Terakhir, Bpk Imam Maksudi menyampaikan beberapa pesan kepada para calon penerima beasiswa LPDP, antara lain: Kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan negara diperjuangkan dengan pengorbanan, sehingga harus dipertahankan dengan pengorbanan pula; Hadapi tantangan (perlu kekuatan moral untuk kobarkan semangat kebangkitan nasional dan perlu mantapkan nilai-nilai kebangsaan sebagai sumber kekuatan moral); dan Pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang harus dilakukan secara sistematis, konsisten dan terukur.

    Thursday, June 27, 2013

    Diskusi dan Bedah Film "BATAS"

    Materi sore di hari kedua Program Kepemimpinan LPDP diisi dengan diskusi dan bedah film "Batas" garapan sutradara Rudi Soedjarwo. Diskusi menghadirkan dua tokoh utama dalam film tersebut yaitu Om Piet Pagau yang memerankan Panglima Adayak serta Marcella Zalianty yang memerankan Jaleswari. Dalam film yang menghabiskan total anggaran mencapai 6 miliar rupiah ini, wanita yang kerap disapa 'Mbak Marcel' ini sekaligus berperan sebagai produser film tersebut.

    Batas menceritakan tentang perjalanan seorang tokoh bernama Jaleswari di bumi Kalimantan. Jaleswari mendapatkan penugasan dari yayasan tempat ia bekerja untuk memperbaiki kinerja program CSR bidang pendidikan yang 'macet' tanpa kejelasan di Entikong, salah satu daerah di Kalimantan Barat yang merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Selama tinggal di Kalimantan, Jales banyak mempelajari pola kehidupan dan menemukan titik pandang yang berbeda dalam memaknai arti arti garis perbatasan. Pola hidup masyarakat Suku Dayak setempat telah menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat istiadat setempat.

    Sesi pemutaran film Batas di Blitz Megaplex Pacific Place


    Suasana diskusi dan bedah film Batas bersama Marcella Zalianty dan Piet Pagau
    Bersama Mbak Marcella Zalianty
    Selama diskusi, Mbak Marcel sempat berbagi cerita mengenai tantangan-tantangan yang dialami selama pembuatan film Batas, antara lain besarnya biaya yang diperlukan untuk produksi film mengingat lokasi yang sulit diakses dan mahalnya logistik. Selain itu Mbak Marcel juga sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap pasar film di Indonesia dimana film-film yang beredar saat ini relatif memiliki nilai edukasi yang tipis. Ia berharap ke depannya akan muncul lebih banyak film yang bernuansa nasionalisme, berwawasan budaya, serta memiliki nilai edukasi lebih untuk dikedepankan.


    Masa Depan Pemberantasan Korupsi di Indonesia

    Tema di atas adalah tema yang disampaikan pada hari kedua Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa LPDP Angkatan II. Sesi kali ini menghadirkan salah seorang tokoh pemberantasan korupsi di Indonesia yaitu Bpk Erry Riyana Hardjapamekas. Beliau adalah mantan wakil ketua KPK yang sebelumnya juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Timah Tbk (1994 – 2002). Untuk informasi lebih lanjut mengenai profil beliau, silakan kunjungi halaman ini.

    Dalam pengantar materi, Bpk Erry Riyana menyampaikan 3 hal yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan manusia, yaitu: nilai (values), moral (morals), dan etika (ethics). Menurut Shirley C. Eagan (1995), Nilai merupakan keyakinan inti yang menjadi pegangan hidup dan memotivasi sikap dan perilaku. Moral merupakan kepercayaan individu tentang apa yang benar dan salah. Sedangkan etika merujuk pada standar perilaku yang menunjukkan bagaimana orang harus berperilaku berdasarkan nilai-nilai tertentu dan prinsip-prinsip yang menentukan hal yang benar. Dari ketiga hal ini, sudah selayaknya etika menempati posisi tertinggi dalam penentuan keputusan, bahkan lebih tinggi daripada peraturan hukum karena setiap keputusan memiliki dimensi etika.

    Berbicara masalah korupsi, salah satu teori yang dapat menjelaskan hal ini adalah "The Fraud Triangel" oleh Donald R. Cressey. Dijelaskan dalam teori ini bahwa perilaku (seperti korupsi) bisa terjadi karena tiga faktor yaitu: 1) peluang, yang dapat muncul karena pengawasan yang lemah atau kurangnya kapasitas; 2) insentif, misalnya karena masalah keuangan, perjudian, desakan kerja, dll; 3) rasionalisasi atau perilaku. Solusi yang dapat diterapkan untuk perilaku tidak etis seperti korupsi antara lain: control system, people's education & development, role modelling & leadership.  

    Selain Bpk Erry Riyana, program kepemimpinan LPDP juga menghadirkan tokoh perfilman Ine Febriyanti. Materi diisi dengan pemutaran film berjudul "Selamat Siang, Risa!" yang disutradarai oleh Ine sendiri. Film berdurasi 17 menit ini mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Arwoko (diperankan oleh aktor Indonesia Tora Sudiro) yang sangat gigih melawan tindak penyuapan / korupsi di tengah-tengah kondisi keluarganya yang memprihatinkan. 

    Film "Selamat Siang, Risa!" merupakan film yang sangat inspiratif. Pesan moral yang disampaikan sangat 'mengena' di hati para peserta program kepemimpinan, khususnya saya sendiri. Di akhir sesi, disampaikan oleh Mbak Ine bahwa PR kita saat ini adalah bagaimana membuat sistem yang baik untuk upaya pencegahan korupsi, karena walau bagaimana pun integritas yang baik perlu dibarengi dengan sistem yang baik. Terakhir, untuk mengunduh film "Selamat Siang, Risa!", Anda bisa menelusuri Youtube dengan kata kunci "kita versus korupsi". 

    Wednesday, June 26, 2013

    Hari Pertama Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa LPDP Batch II

    Sebanyak 139 orang peserta mengikuti Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa LPDP Batch II baik dari program magister dan doktor luar negeri maupun dalam negeri. Hari pertama program kepemimpinan diisi dengan sambutan dari Direktur Utama LPDP, Bpk Eko Prasetyo dan Sekjen Kemendikbud, Bpk. Prof. Ainun Na'iem. Kemudian dilanjutkan dengan 2 sesi materi yaitu materi pertama, "What, Why and How to LPDP" diisi oleh para anggota dewan direksi LPDP dan materi kedua, "Kewirausahaan Sosial untuk Indonesia" diisi oleh Goris Mustaqim, founder Yayasan ASGAR MUDA Indonesia.

    "What, Why and How to LPDP"

    Indonesia menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia,antara lain:
    1. Rendahnya kualitas dan kuantitas manusia terdidik
    2. Komposisi lulusan perguruan tinggi yang tidak ideal
    3. Rendahnya dana riset di Indonesia
    4. Tingginya resiko bencana alam di Indonesia
    Berangkat dari latar belakang di atas, LPDP merancang tiga program utama yaitu: 1) Beasiswa Magister dan Doktor; 2) Rispro; dan 3) Perbaikan infrastruktur pendidikan.

    Saat ini, Indonesia telah masuk ke dalam G20 (20 negara dengan indikator ekonomi tertinggi di dunia), dimana Indonesia menempati posisi ke-17. Ke depan, pencapaian ini bisa saja naik atau malah turun. Oleh karena it, untuk meningkatkannya diperlukan dua hal pokok yaitu inovasi dan pembangunan SDM. Program-program yang dikembangkan LPDP adalah dalam rangka mendukung tujuan tersebut.

    LPDP mengedepankan 5 nilai dalam mengembangkan program-programnya antara lain: integritas, nasionalisme, berwawasan global, etika, dan terampil dalam kemampuan dasar. Dengan begitu, LPDP tidak hanya sekedar menyalurkan beasiswa, tetapi juga "mengisi" sehingga begitu para penerima beasiswa kembali ke tanah air, mereka akan membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

    "Kewirausahaan Sosial untuk Indonesia"

    Materi kedua ini diasuh oleh Goris Mustaqim, pendiri Yayasan ASGAR MUDA Indonesia. "Asgar" merupakan singkatan dari "Asli Garut" dimana yayasan ini memiliki visi untuk mendorong para pemuda garut untuk dapat berkarya hingga ranah internasional.

    Dijelaskan dalam materi ini bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak permasalahan sosial. Salah satu upaya yang dirintis oleh Yayasan Asgar adalah mengatasi permasalahan sosial dengan pendekatan kewirausahaan. Dengan motto "pemuda membangun bangsa dari desa", beberapa program yang telah dirintis oleh Yayasan Asgar antara lain: 1) pendidikan : pemberian bimbingan bagi para murid yang ingin menembus ujian masuk perguruan tinggi dan pemberian beasiswa; 2) pengembangan kewirausahaan; dan 3) pemberdayaan masyarakat (microfinance) : pendirian  BMT, investasi pohon, dll.

    Kang Goris saat menyampaikan materi kewirausahaan

    Berikut beberapa tips yang dibagikan oleh Kang Goris seputar membangun kewirausahaan atau enterpreneurship :
    1. Terapkan strategi ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) untuk menemukan bisnis baru di tengah maraknya persaingan kewirausahaan.
    2. Jangan sampai ide yang muncul hanya berhenti menjadi ide, tanpa ada aksi. "Idea is cheap, but execution is the king".
    3. Tidak ada yang namanya tidak punya bakat dalam berbisnis. Enterpreneurship bisa dilatih!
    4. Perkuat silaturahmi dan jalin networking untuk memperkuat peran masyarakat.
    5. Lakukan pendidikan yang membangun karakter untuk membentuk mental enterpreneurship.
    6. Temukan mentor dalam berbisnis. Sebagian besar orang lebih mampu bertahan dalam mengembangkan bisnisnya jika didampingi mentor, dibanding tanpa mentor.